APGI

05 May 2020
Narasumber : Adi Seno

Secangkir Kopi Menjelajah Dunia

Jakarta – Pemandu Gunung terkungkung badai COVID-19. Sebagaimana prosedur kerja mereka, kala badai berdiam di dalam tenda. Sambil menunggu reda, secangkir kopi menemani penantian. Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia, menyelenggarakan berbagi pengetahuan melalui platform konferensi virtual. Acara perdana dari rencana delapan sesi menampilkan Ade Wahyudi yang akrab dipanggil Dewe dan Sofyan Fesa yang biasa dipanggil Iyan.

Kedua pemandu ini sudah lebih lima tahun memandu di berbagai gunung nasional dan internasional. Mereka disandingkan sebagai pendaki Seven Summit Indonesia, dan pendaki Seven Summit Dunia. Namun keduanya dalam kepemanduan saling bertautan karena Dewe bukan sekadar memandu di Indonesia tetapi kadang memandu gunung manca negara. Sedangkan Iyan juga tidak eksklusif memandu di gunung dunia, tetapi juga sudah pernah menyelesaikan Seven Summit Indonesia, selain pada Juli 2011 berhasil menyelesaikan Seven Summit Dunia.

Bagi mereka berdua, mendaki gunung adalah passion. Gairah hidup ini ditekankan mereka ketika mereka harus melalui berbagai tantangan dan kesulitan. Dewe berkisah ketika ia mengantar dua pendaki ke Carstensz dan harus menghadapi cuaca buruk hingga ia tidak yakin akan selamat atau tidak. Keteguhan yang didapat dari gairah pendakiannya berakhir dengan selamat.

Begitu juga Iyan yang menceritakan dua kegagalannya. Ia gagal di Denali akibat badai yang sudah menghadang sebelum Camp 1. Jelang masuk perkemahan pun ia sempat terperosok ke dalam crevasse, celah rekahan di medan salju, hingga harus dikeluarkan menggunakan teknik meniti tali Single Rope Technique. Rombongan ini sempat bertahan satu Minggu menunggu badai berlalu, namun ketika mereka menapak menuju puncak di gigir tipis hujan salju menyebabkan mereka harus “berenang” melalui jalur pendakian. Iyan memutuskan mereka semua kembali, membatalkan pendakian.

Kala kedua ketika Iyan dan tamunya mendaki Puncak Yamin di Papua. Perjalanan 24hari terasa lebih lama, karena helikopter angkutan mereka bermasalah. Kru helikopter ada yang dianiaya masyarakat karena dicurigai terbang untuk pertambangan bukan sekadar wisata. Saat dropping heli pun tidak bisa di lokasi yang dituju melainkan satu setengah hari jalan sebelumnya. Tim tinggal satu hari lagi mencapai puncak, di depan tebing hambatan terakhir, begitu kisah Iyan, klien memutuskan untuk balik karena ia ada agenda kegiatan lain yang lebih penting.

Tidak akan lari gunung di kejar, pepatah kuno mengatakan. Niat mereka untuk kembali pada Januari berikutnya, sudah dua kali Januari berlalu, 2019 dan 2020, mereka belum juga kembali. Jika gampang putus asa, tidak memiliki gairah mendaki, tentu tidak mungkin mendaki gunung bisa sampai menyambangi puncak puncak di berbagai benua di bumi. (ads)